hariansuara.com, Jakarta – Itang Yunasz  masuk dalam radar team kurator Costume and Textile Arts at the Fine Arts Museums of San Francisco yang akan menggelar pameran bertajuk Contemporary Muslim Fashion.

Itang Yunasz dinilai sebagai desainer yang menjadi pelopor dan memberi pengaruh pada ‘ombak’ perkembangan busana muslim Indonesia yang juga mempengaruhi perkembangan industri busana muslim dunia.  Contemporary Muslim Fashions sendiri adalah pameranyang mengeksplorasi sifat kompleks dan beragam kaidah busana Muslim di seluruh dunia.

Pameran dengan tim kurator yang dikomandani Jill D’Allesandro ini menelaah bagaimana perempuan Muslim menjadi penentu gaya di dalam dan di luar komunitas mereka, yang kemudian menjadi daya tarik media massa untuk lebih memperhatikan kehidupan Muslim masa kini (kontemporer).

“Bagi saya, berbusana santun bukanlah sekadar fashion, tetapi bisa diibaratkan ‘jiwa’ kami sebagai umat muslim, dan pameran ini menjadi sangat penting dalam perkembangan busana muslim karena bisa dianggap sebagai sebuah statement, sebuah bentuk diterimanya dan dihormatinya sebuah keyakinan sebagian umat dalam berpenampilan yang mengacu pada petunjuk-Nya, yang kemudian penerimaan ini dibagikan pada masyarakat luas melalui sebuah presentasi pameran. “katanya.

“Bisa dibilang, Contemporary Muslim Fashions adalah bentuk nyata saling menghargai dan toleransi antar pemeluk agama, ini sungguh hal yang luar biasa dan saya sangat menghargai mereka yang terlibat mulai dari membuat riset, menggagas, memrakarsai, memberi izin dan siapa pun yang terlibat dalam pameran ini,” ujarnya.

Di pameran Contemporary Muslim Fashions, Itang Yunasz menampilkan 3 koleksi yang mengusung tema “Tribalux Sumba”. Melalui ketiga karyanya Itang Yunasz ingin menyampaikan kecintaannya pada pesona tanah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kecantikan dan keindahan motif kain tenun Sumba mampu membuat Itang terpaku akan sebuah warisan budaya leluhur.

Masing-masing kain memiliki motif dengan detail yang memesona seakan bercerita tentang tradisi. Koleksi ini ditampilkan dalam warna indigo dan cokelat kopi dan maroon yang membuatnya “hidup”. Dan untuk menyempurnakan kemewahan penampilan, sejumlah untaian kalung dan bros koleksi Mannaqueen dihadirkan sebagai perhiasan. Kreasi MannaQueen selalu berangkat dari  kekayaan budaya Indonesia sebagai inspirasi dengan memakai semi precious stone, mutiara, lapis emas, rhodium dan perak dan menghasilkan kreasi yang cantik dan unik dalam jumlah terbatas.

Bagi Itang Yunasz, diundangnya dirinya dalam pameran Contemporary Muslim Fashions merupakan sebuah pengakuan internasional pada kiprahnya sebagai desainer busana modest. Kehadirannya di pembukaan pameran Contemporary Muslim Fashions ini pun mendapat dukungan dari Badan Ekonomi Kreatif, Bank Tabungan Negara dan Djarum Bakti Pendidikan.

Itang Yunasz berharap  kehadirannya bersama desainer lainnya di moment penting ini juga sekaligus mewakili industri modest fashion Indonesia yang ke depannya turut memperkuat kedudukan Indonesia sebagai pusat busana Muslim yang menjadi target pemerintah pada 2020. Pameran ini akan berlangsung hingga Januari 2019 mendatang.(*)